Skip to content

HUKUMAN BAGI ORANG MURTAD

14 Juni 2010

Akhir akhir ini terdengar kembali adanya upaya upaya pengdangkalan aqidah dan pemurtadan. Yang ingin saya tanyakan, apa hukumnya seseorang murtad dan adakah sanksi syariat khusus yang dikenakan kepada pelaku murtad.

Wassalam,
Muhammad Jalil, Banda Aceh.

Jawaban
Wa’alaikumus Salam, Wr. Wb.
Saudara Muhammad Jalil, yth.

Pengertian riddah adalah sebagai berikut: Menurut Al Kasani al Hanafi bahwa sudah termasuk murtad orang-orang yang melontarkan kalimat kufur dengan lisan setelah adanya iman, jadi riddah adalah kembalinya seseorang dari keimanan kepada kekufuran. Ash Shaawi al Maliki berkata: “Riddah adalah kufurnya seorang muslim dengan ucapan terang-terangan, atau ucapan yang yang menjurus kepada kekafiran atau mengerjakan sesuatu yang mengandung kekufuran.

Sedang menurut Asy-Syarbaini asy-Syafi’i riddah adalah memutuskan atau melepaskan diri dari Islam dengan niat ataupun perbuatan, demikian pula ucapan baik yang berupa olok-olok, penentangan ataupun berbentuk keyakinan.

Dari pengertian dan penjelasan di atas dapat kita simpulkan bahwa riddah adalah kembali atau berbaliknya seseorang dari keimanan. Dan secara bahasa ia memang memiliki arti kembali sebagaimana difirmankan oleh Allah, artinya: “Dan janganlah kamu lari ke belakang (karena takut kepada musuh).” (Al-Maidah: 21).

Berbaliknya seorang dari Islam dapat saja dalam bentuk i’tiqad (keyakinan), ucapan dan perbuatan, dan ini sejalan dengan pengertian iman yang juga mencakup keyakinan hati, ucapan lisan dan perbuatan anggota badan. Atau secara rinci bentuk riddah dapat kita jabarkan sebagai berikut:

1. Riddah dengan ucapan hati seperti mendustakan wahyu yang diturunkan Allah seperti tidak mengimani bahwa semua ayat Quran itu kalamullah atau berkeyakinan adanya Pencipta selain Allah dsb.

2. Riddah dengan perbuatan hati seperti membenci Allah dan Rasulullah Nya, sombong dan enggan mengikuti perintah Rasul Saw

3. Riddah dengan ucapan lisan seperti mencela Allah atau mencela Rasulullah, berolok-olok terhadap agama dan sebagainya.

4. Riddah dengan perbuatan anggota badan seperti sujud kepada berhala, menghina Mushaf Alquran dan lain sebagainya.

Hukuman bagi orang murtad adalah dikenakan hukuman bunuh (mati) tentunya setelah melalui proses penyelidikan, penyidikan, penuntutan dan penetapan oleh Mahkamah Syar’iyah. Shahibul Fatwa berkata: “Sesungguhnya jikalau pelaku murtad itu tidak dihukum mati maka tentu setiap orang yang memeluk Islam akan seenaknya keluar dari Islam. Hukuman (mati) tersebut dilakukan untuk mencegah orang dari main-main dalam agama dan dengan leluasa dan seenaknya keluar dari agamanya.”

Orang murtad yang dihukum mati itu tidak dimandikan, tidak dishalatkan dan tidak dikuburkan di pemakaman kaum muslimin. Di antara dalil yang menunjukkan pensyari’atan hukuman mati bagi orang murtad adalah hadits riwayat Imam al Bukhari, bahwasannya Ali bin Abi Thalib ra pernah menghukum orang zindik dengan cara membakar.

Lalu berita itu sampai kepada Ibnu Abbas ra maka ia berkata: “Kalau saja aku pada tempatmu, maka aku tidak membakar mereka karena larangan Nabi: “Janganlah kalian menyiksa dengan siksaan Allah.” Dan yang aku lakukan adalah membunuh mereka sebagaimana sabda Rasulullah Saw: “Barang siapa yang mengganti agamanya (murtad) maka bunuhlah ia.”Maksud dari mengganti agama adalah mengganti Islam dengan agama lain, sebab pada dasarnya agama itu hanyalah Islam, sebagaimana firman Allah, artinya: “Barang siapa mencari agama selain agama Islam maka sekali-kali tidak akan diterima (agama itu) daripadanya.” (Ali Imran: 85).

Para shahabat senantiasa memegang teguh hukum ini, seperti tersebut dalam sebuah riwayat ketika Muadz bin Jabal mengunjungi Abu Musa Al Asy’ari (ketika itu keduanya sama-sama menjadi Amir di Yaman) ia melihat ada seorang laki-laki yang sedang diikat, maka Muadz bertanya: “Siapakah orang ini?” Abu Musa menjawab: “Ia dulu seorang Yahudi, kemudian masuk Islam namun kini berbalik lagi menjadi Yahudi. Abu Musa melanjutkan: “Silakan duduk!” Muadz lalu menjawab: “Tidak! Aku tidak akan duduk sehingga hukum Allah dan RasulNya ditegakkan untuk orang ini,” (ia mengucapkan ini tiga kali). Maka diputuskanlah perkara orang tersebut dan akhirnya dihukum mati. (Riwayat Al Bukhari).

Dalam Al-Bidayah, Ibnu Katsir berkata tentang peristiwa-peritiwa di tahun 167 H diantaranya adalah: “Al-Mahdi senantiasa memantau perkembangan para zindik di seluruh penjuru negeri, menghadirkan serta mengadili mereka. Lalu menghukum mati mereka dalam jarak hanya sejengkal dari hadapannya.”

Yang tak kalah masyhurnya adalah kisah dihukum matinya Al-Hallaj yang mengaku dirinya memiliki sifat ketuhanan serta menyebarkan faham hulul (bersatunya hamba dengan Rabb). Ibnu Katsir menggambarkan bagaimana proses eksekusi terhadap Al Hallaj ini, beliau berkata: “Didatangkan Al Hallaj, lalu dicambuk seribu kali. Setelah itu kedua tangan dan kakinya dipotong dan kepalanya dipenggal. Jasadnya dibakar dan abunya dihanyutkan di sungai Tigris di Irak. Kepalanya ditancapkan di sebuah jembatan kota Baghdad selama dua hari, kemudian dibawa ke Khurasan dan dibawa keliling di seluruh penjuru kota.

Riddah model Al Hallaj ini bukan sekedar riddah biasa, namun mengandung pelecehan terhadap Allah dan Rasul Nya, permusuhan dan penghinaan yang mendalam serta hujatan terhadap agama Allah. Untuk zaman kita ini mungkin bisa kita sebut nama Salman Rushdi yang tak kalah kerasnya dalam memusuhi Islam dan menghina agama Allah. Demikian juga dengan orang-orang yang mengartikan “huwa” pada Qul Huwallahu Ahad, dengan manusia, sehingga berarti “Katakanlah Wahai Muhammad bahwa Ia (manusia) adalah Allah.” Na’udzu billah.

Ibnu Taymiyah berkata: “Riddah itu ada dua macam; riddah mujarradah (murni) dan riddah mughalazhah (kelas berat) yang secara khusus disyariatkan hukuman mati. Kedua-duanya memang terdapat dalil yang menjelaskan di haruskannya hukuman mati bagi pelakunya, hanya saja dalil yang menunjukkan gugurnya hukuman mati dengan bertaubat tidak mencakup kedua kelompok tersebut, tapi hanya untuk kelompok yang pertama yaitu riddah mujarradah (murni). Tinggallah kelompok kedua (riddah mughalazhah), dimana telah jelas dalil diwajibkannya hukuman mati bagi pelakunya, serta tidak ada nash maupun ijma’ yang menunjukkan gugurnya hukuman mati bagi dia. Qiyas (penyamarataan) dalam hal ini tidak bisa diterima karena adanya perbedaan yang jelas (antara kedua-nya).”

Beberapa penyebab riddah, Jahil (bodoh) terhadap agama Allah dan lemah dalam berpegang dengan prisip-prisip akidah yang benar. Terutama sekali ketidak-tahuan terhadap hal-hal yang menjerumuskan ke dalam kekufuran, serta resiko-resiko orang yang murtad baik sewaktu di dunia maupun di akhirat.

Bagi pembaca yang ingin mengkaji lebih dalam lagi, dapat merujuk pada kitab-kitab muktabar, antara lain: Al-Fatawa, Lisy-Syaikhil Islam, jilid 20 halaman 102; Fathul Baari jilid 13, halaman 272; Al-Bidayah Wan Nihaayah Li Ibni Katsir, jilid 10 halaman 149 dan jilid 11 halaman 143; dan kitab Ash-Shaarimul Masluul, jilid 3 halaman 696.

Demikian, Wallahu A’lamu Bish-Shawaab.

* Prof. Dr. Tgk. H. Muslim Ibrahim, MA adalah Ketua Umum MPU Aceh
Halaman Depan
Sumber: serambinews.com

4 Komentar leave one →
  1. 21 Januari 2014 23:46

    MURTAD ATAU PINDAH AGAMA ITU MENURUT PANDANGAN SAYA TIDAK MENJADI MASALAH, JIKA SETELAH MEMELUK AGAMA/KEPERCAYAAN YANG BARU ITU JUSTRU MENJADIKAN SI MURTAD LEBIH BAIK DIBANDINGKAN DENGAN DULU SEWAKTU SI MURTAD BELUM MURTAD

    APA YANG SALAH JIKA SETELAH MURTAD TERNYATA SI MURTAD TIDAK MELAKUKAN SEGALA BENTUK KEJAHATAN

    APA YANG SALAH JIKA SETELAH MURTAD TERNYATA SI MURTAD JUSTRU MEMPERBANYAK AMAL KEBAJIKAN

    APA YANG SALAH JIKA SETELAH MURTAD TERNYATA SI MURTAD JUSTRU MENJADI ORANG YANG BERMANFAAT DENGAN MEMBANTU ORANG LAIN

    APA YANG SALAH JIKA SETELAH MURTAD TERNYATA SI MURTAD TIDAK MELAKUKAN PENGRUSAKAN DLL.

    APA YANG SALAH JIKA SETELAH MURTAD TERNYATA SI MURTAD BATHIN-NYA MENJADI BERSIH BEBAS DARI KEBENCIAN, KEMARAHAN, IRI HATI, KESERAKAHAN

    PESAN SAYA BIARLAH YANG MURTAD BIAR MURTAD JIKA DENGAN KEMURTADDANYA MENJADIKAN SI MURTAD LEBIH BAIK DAN LEBIH BERGUNA BAGI ORANG LAIN DAN DIRINYA

    PESAN SAYA :
    JANGAN PERCAYA BEGITU SAJA DENGAN APA YANG KAMU DENGAR DAN APA YANG KAMU BACA, JANGAN PERCAYA DENGAN ADAD KEBIASAAN YANG TELAH DILAKUKAN SECARA TURUN TEMURUN, JANGAN PERCAYA DENGAN DOKTRIN-DOKTRIN YANG MEREKA BERIKAN KEPADAMU,.. TETAPI… B U K T I K A N L A H DULU
    “Jika itu ber-MANFAT bagi kamu dan ber-MANFAAT bagi orang lain,.. dan.. Jika itu TIDAK MERUGIKAN kamu dan TIDAK MERUGIKAN orang lain dan itu merupakan KEBENARAN yang dilakukan oleh para Bijaksana, maka peganglah ajaran itu”

    Pesan saya :
    1. Jangan melakukan segala bentuk kejahatan
    2. Perbanyaklah berbuat kebajikan
    3. Sucikanlah hati dan pikiran (Bathin)

    “Berbuat baiklah supaya menjadi orang baik”

    Wong Agung

    • Joko permalink
      3 Oktober 2016 02:06

      Dalam Islam yg kamu pahami..
      Tunduk…
      Jika Anda ingin menjadi baik dgn cara Anda,silahkan…
      Kaum muslimin hanya akan baik selama mendapat ridho Allah dgn bertaqwa…
      Bukan karena merasa sudah berbuat baik…
      Apa yang baik di mata manusia belum tentu mendapat ridho Allah…
      Bagimu agamamu bagimu kepercayaan mu
      Bagiku agamaku bagiku kepercayaan ku..

  2. Raja permalink
    3 September 2012 00:02

    @Yuri : PEGANG AL-QURAN ERAT ERAT…. jgn mudah terksesima dengan FATWA FATWA maupun Hadis2 yang Bertentangan dengan Al-quran.

  3. yuri andri gani permalink
    11 Maret 2012 13:53

    coba dijelaskan ayat ini.
    (QS, al-Baqarah : 256), “Tidak boleh ada paksaan dalam agama. Sungguh telah nyata (berbeda) kebenaran dan kesesatan. Karena itu, barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, sesungguhnya ia telah berpegang kepada tali yang amat kuat yang tak akan putus. Allah Maha Mendengar dan Mengetahui”

    kalau ada hukuman mati untuk orang yang keluar dari islam, bukannya itu termasuk dalam pemaksaan agama?

    apakah ada dalil Al-Qur’an yang menjelaskan hukuman untuk orang yang murtad?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: