Skip to content

AHLUSSUNNAH WAL JAMAAH

19 Agustus 2009

Oleh: Prof. DR. Tgk. Muslim Ibrahim, MA

Pertanyaan

Ustadz Pengasuh yang mulia,

Assalamualaikum wr. wb.

Saya ingin menanyakan apa perbedaan jelas antara ahlussunnah waljamaah dan ahlul bid’ah wadhdhalaalah, sehingga setiap habis shalat lima waktu kita dianjurkan untuk berdoa supaya kita dapat menjadi ahlussunnah waljamaah dan jangan menjadi ahlul bid’ah wadhdhalaalah.

Wassalam dari

Seorang Hamba Allah di Aceh Utara.
Jawaban;

Hamba Allah yang mulia,

Waalaikumussalam wr. wb.

Pertanyaan Teungku cukup menarik disimak, terutama pada masa-masa perhatian dan semangat orang untuk mengkaji agama secara mendalam mulai surut dan berkurang.

Begini, Teungku!

Dahulu, di zamaan Rasulullah saw, kaum muslimin dikenal bersatu. Tidak ada golongan ini dan tidak ada golongan itu. Semua di bawah pimpinan dan komando Rasulullah saw.

Bila ada masalah atau beda pendapat antara para sahabat, mereka langsung datang kepada Rasulullah saw. Itulah yang membuat para sahabat saat itu tidak sampai terpecah belah, baik dalam masalah akidah, maupun dalam urusan duniawi.

Setelah Rasulullah saw wafat, benih-benih perbedaan mulai tampak dan puncaknya terjadi saat Imam Ali ra menjadi khalifah. Namun perbedaan tersebut lebih bersifat politik. Sedang akidah mereka tetap satu yaitu akidah Islamiyah, meskipun saat itu benih-benih penyimpangan dalam akidah sudah mulai ditebarkan oleh Ibnu Saba’, seorang yang dalam sejarah Islam dikenal sebagai pencetus faham Syiah (Rawafid).

Tapi setelah para sahabat wafat, benih-benih perbedaan dalam akidah tersebut mulai membesar, sehingga timbullah faham-faham yang bermacam-macam yang menyimpang dari ajaran Rasulullah saw.

Saat itu muslimin terpecah dalam dua bagian, satu bagian dikenal sebagai golongan-golongan ahli bid’ah, atau kelompok-kelompok sempalan dalam Islam, seperti Mu’tazilah, Syiah Rawafid, Khawarij dan lain-lain. Sedang bagian yang satu lagi adalah golongan terbesar, yaitu golongan orang-orang yang tetap berpegang teguh kepada apa-apa yang dikerjakan dan disampaioleh Rasulullah saw bersama sahabat-sahabatnya. Golongan yang terakhir inilah yang kemudian dikenal dengan golongan berakidah Ahlus Sunnah Waljamaah. Jadi golongan Ahlus Sunnah Waljamaah adalah golongan yang mengikuti sunnah-sunnah nabi dan jamaatus shahabah. Hal ini sesuai dengan hadits Rasulullah saw; bahwa golongan yang selamat dan akan masuk syurga (al-Firqah an Najiyah) adalah golongan yang mengikuti apa-apa yang aku (Rasulullah saw) kerjakan bersama sahabat-sahabatku.

Dengan demikian akidah Ahlus Sunnah Waljamaah adalah akidah Islamiyah yang dibawa oleh Rasulullah dan golongan Ahlus Sunnah Waljamaah adalah umat Islam sejati. Jelasnya, Islam adalah Ahlus Sunnah Waljamaah dan Ahlus Sunnah Waljamaah itulah Islam. Sedang golongan-golongan ahli bid’ah, seperti Mu’tazilah, Syiah Rawafid dan lain-lain, adalah golongan yang menyimpang dari ajaran Rasulullah saw yang berarti menyimpang dari ajaran Islam sejati.

Dengan demikian akidah Ahlus Sunnah Waljamaah itu sudah ada sebelum Allah menciptakan Imam Hanafi, Imam Malik, Imam Syafii dan Imam Hambali. Begitu pula sebelum timbulnya ahli bid’ah atau sebelum timbulnya kelompok-kelompok sempalan.

Teungku!

Untuk memudahkan menjaga diri, keluarga dan masyarakat kita dari cengkeraman ahlul bid’ah wadhdhalaah itu, berikut ini diturunkan fatwa MPU mengenai ciri atau tanda-tanda dari aliran sesat atau golongan ahlul bid’ah wadhdhalaah itu, antara lain: Mengingkari salah satu dari rukun iman yang enam yaitu: beriman kepada Allah, kepada Malaikat-Nya, kepada Kitab-Kitab-Nya, kepada Rasul-Rasul-Nya, kepada Hari Akhirat dan kepada Qadha dan Qadar dari-Nya.

Mengingkari salah satu dari rukun Islam yang lima, yaitu: Mengucap dua kalimah syahadat, menu-naikan shalat, mengeluarkan zakat, berpuasa pada bulan Ramadhan dan menunaikan ibadah Haji.

Meyakini dan atau mengikuti aqidah yang tidak sesuai dengan I’tiqad Ahlus-Sunnah waljama’ah.

Meyakini turunnya wahyu setelah Alquran, dan mengingkari kemurnian dan atau kebenaran Alquran, melakukan penafsiran Alquran tidak berdasarkan kaidah-kaidah tafsir, mengingkari kedudukan hadits Nabi sebagai sumber ajaran Islam, melakukan pensyarahan terhadap hadits tidak berdasarkan kaidah-kaidah ilmu mushthalah hadits, menghina dan atau melecehkan para nabi dan rasul Allah, mengingkari Nabi Muhammad saw sebagai Nabi dan Rasul terakhir, menghina dan atau melecehkan para shahabat nabi Muhammad saw, merubah, menambah dan atau mengurangi pokok-pokok ibadah yang telah ditetapkan oleh syari’at, seperti berhaji tidak ke Baitullah, shalat fardhu tidak lima waktu dan sebagainya.

Mengkafirkan sesama muslim tanpa dalil syar’ie yang sah, seperti mengkafirkan muslim hanya karena bukan anggota kelompoknya. Demikian, semoga kita semua terpelihara dari kesesatan, yang disamping kita terus-menerus berdo’a terutama sehabis shalat kita juga rasanya perlu mengetahui ciri dan tanda-tandanya serta kita wajib menjaga diri, keluarga dan masyarakat dari cengkeramannya. Allahumma, Amiin. Yaa Rabbal ‘Alamiin. Wallahu A’lamu Bish-Shawaab

Sumber: Serambinews.com

One Comment leave one →
  1. 10 Februari 2014 21:05

    ass , sy hendak bertanya apakah ibadah menggunakan speaker ( bug ) itu bid,ah dholallah ? karena memang tidak ada contohnya dari kanjeng rosul sendiri, mohon pencerahanya wslm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: