Skip to content

HUKUMAN MATI DAN KEADILAN ISLAM

18 Agustus 2009

Oleh: Prof. DR. Tgk. Muslim Ibrahim, MA

Pertanyaan
Yth Teungku Pengasuh Ruangan KAI Serambi Indonesia,

Assalamu’alaikum wr.wb.
Saya ingin menanyakan; (1) Apakah Islam tetap membenarkan hukuman mati. Padahal kita sekarang hidup di era modern dan Islam juga agama yang amat modern; (2) Jika seseorang lelaki hidung belang (baik masih lajang ataupun sudah menikah) melakukan perzinahan dan menghamili seorang gadis perawan, maka si gadis tersebut tidak bisa mengelak dari hukum Islam karena kehamilan dia sebagai bukti kuat perzinahan dan pasti akan dihukum. Sedangkan si lelaki selama tidak mengaku atau tidak ada 4 orang lelaki (saleh) saksi mata yang menyaksikan secara bersamaan si lelaki “memasukkan keris ke dalam sarung” (definisi zinah dalam Islam) maka si lelaki tidak akan bisa di sentuh oleh hukum rajam atau apapun namanya. Benarkah demikian? Kalau benar dimanakah letaknya keadilan hukum Islam itu.

Demikian dan atas jawabannya, kami ucapkan terima kasih.

Wassalam dari
Ibu Herawaty, Aceh Timur.

Jawaban
Ibu yang terhormat,

Waalaikumussalam wr. wb.
Terima kasih. Jawaban pertanyaan pertama, bahwa Islam tetap mengakui eksistensi hukuman mati dan memberlakukannya dalam jarimah (tindak pidana) hudud, qishas dan ta’zir. Negara dibenarkan untuk melaksanakan hukuman mati kepada pelaku kejahatan pidana tertentu.

Kesimpulan itu dapat diambil dari dalil-dalil berikut. Firman Allah swt (Q.S, Al-Maidah: 32-33; al-Baqarah: 178; al-Isra’: 33; dan al-Hujurat: 9). Juga didasarkan pada sejumlah hadits shahih. Di antaranya, Riwayat Imam Ahmad dari Dailami, ia berkata: Saya bertanya kepada Rasulullah; saya berkata: Wahai Rasulullah, kami (tinggal) di bumi (daerah) yang dingin; di sana kami melakukan suatu pekerjaan berat; dan kami meminum minuman (terbuat) dari gandum agar kami kuat melakukan pekerjaan kami dan agar kami (pun kuat) menghadapi rasa dingin negeri kami. Rasulullah bertanya: “Apakah minuman itu memabukkan?”

Saya menjawab: Ya. Rasulullah bersabda: “Jauhilah minuman tersebut.” Dailami berkata: Kemudian saya datang lagi ke hadapan beliau. Saya bertanya lagi seperti tadi. Rasulullah bertanya: “Apakah minuman itu memabukkan?” Saya menjawab: Ya. Rasulullah ber-sabda: “Jauhilah minuman tersebut.” Saya berkata (lagi): Orang-orang tidak mau meninggalkannya. Beliau bersabda: “Jika mereka tidak mau meninggalkan minuman tersebut, bunuhlah mereka!” Hadis lain diriwayatkan Muslim dari `Ubadah bin Shamit r.a.; ia berkata: Rasulullah saw bersabda: “Ambillah dariku (terimalah hukum dariku)! Ambillah dariku (terimalah hukum dariku)! Allah telah menetap-kan suatu jalan (ketentuan hukum) bagi perem-puan-perempuan itu; mereka yang belum kawin (jika berzina) dengan yang belum kawin hukumannya adalah jilid (cambuk) 100 kali dan diasingkan satu tahun; dan (hukuman) yang sudah kawin (jika berzina) dengan yang sudah kawin hukumannya dijilid 100 kali dan dirajam”.

Demikian juga hadits Muslim dari Abdullah bin Mas’ud, ia berkata, Rasulullah bersabda: “Tidak halal darah seorang muslim yang mengakui bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan aku ini utusan-Nya kecuali disebabkan salah satu dari 3 (tiga) hal: (1) Duda/Janda yang berzina, (2) membunuh orang dengan sengaja, dan (3) orang yang meninggalkan agamanya serta memisahkan diri dari jama’ah (murtad)”. Riwayat Muslim dari `Arfajah, ia berkata: Saya mendengar Rasulullah bersabda: “Barang siapa datang kepadamu, sedang urusanmu semua ada pada satu orang (khalifah), dengan maksud hendak melemahkan kekuatanmu atau mencerai beraikan golonganmu, maka bunuhlah ia” dan hadits Riwayat Bukhari dari Ibn Abbas r.a., Rasulullah saw bersabda: “Barang siapa mengganti agamanya, maka bunuhlah ia.”

Kemudian Wahbah al-Zahili dalam al-Fiqh al-Islami wa Adillatuhu, menulis, artinya: “Orang yang kejahatannya di muka bumi tidak dapat dihentikan kecuali dengan dibunuh, maka ia (harus) dibunuh; misalnya orang yang memecah belah jamaah kaum muslimin dan orang yang mengajak ke-bid’ah-an dalam agama. Nabi memerintahkan agar membunuh orang yang sengaja berdusta atas namanya. Nabi ditanya oleh Dailami al-Himyari –dalam riwayat Ahmad dalam Musnad-nya– tentang orang yang tidak mau berhenti minum khamar pada kali keempat (minum yang keempat kali setelah diingatkan); beliau bersabda: “Jika mereka tidak mau meninggalkan (tidak mau berhenti minum), maka bunuhlah”. Kesimpulannya, boleh menjatuhkan hukuman mati sebagai siyasah (politik hukum) kepada orang yang selalu melakukan kejahatan (tindak pidana), peminum khamar, pelaku kejahatan (berupa gangguan terhadap) keamanan negara, dan sebagainya”.

Berkait dengan permasalahan kedua, menurut pengasuh, memang benar, kehamilan adalah salah satu bukti (bayyinat) dalam kasus perzinaan, selain 4 saksi, dan pengakuan (iqrar). Akan tetapi, wanita yang kedapatan hamil –belum menikah, atau telah melahirkan kurang dari 6 bulan dari usia pernikahan–, maka tidak secara otomatis wanita tersebut telah terbukti berzina. Bisa saja ia diperkosa, kemasukan sperma waktu renang, atau sebab-sebab lain yang bukan zina. Atas dasar itu, kehamilan saja tidak cukup untuk membuktikan bahwa wanita tersebut pelaku zina.

Para ulama telah menyatakan bahwa kehamilan harus disertai dengan pengakuan, sehingga wanita hamil tersebut benar-benar terbukti berzina. Pada prinsipnya, pembuktian harus didasarkan pada sesuatu yang menyakinkan, dan tidak mengandung syubhat. Sebab, Rasulullah saw telah bersabda, “Tidak ada had dalam kesamaran (syubhat)”. Bila dirinya mengaku telah berzina dengan seseorang, maka pengakuannya sudah cukup untuk menjatuhkan had zina kepadanya.

Memang benar juga, jika laki-laki tersebut menolak atau ingkar atas pengakuan wanita yang dizinahinya, maka ia tidak boleh dikenai sanksi atau had zina, selama wanita itu tidak bisa menghadirkan kesaksian dan tidak ada pengakuan dari pihak laki-laki. Ketetapan semacam itu tidak menunjukkan bahwa hukum Islam tidak adil. Sebab, boleh-jadi laki-laki itu memang tidak berzina dengan perempuan tersebut. Maka ini justru menunjukkan bahwa Islam benar-benar adil, dan menjaga martabat manusia. Sebab, wanita itu tidak bisa membuktikan tuduhannya. Hukum manapun pasti tidak mungkin akan menjatuhkan sebuah sanksi hukum tanpa ada bukti dan kesaksian yang cukup.

Adapun, jika benar bahwa laki-laki itu berzina dengan wanita hamil tersebut, maka urusan ini bukanlah ranah atau wilayah yang menjadi prerogatif hukum manusia. Sebab, kita hanya menghukumi aspek-aspek yang tampak saja. Sedangkan masalah yang menyangkut bathin kita kembalikan kepada Allah swt dan pelaku. Tidak ada satu orangpun yang bisa memastikan isi hati seseorang.

Peradilan dimanapun –termasuk barat– hanya mengurusi aspek-aspek yang tampak saja, berdasarkan materi-materi pembuktian yang bersifat inderawi, bukan khayali atau asumsi. Kesan bahwa hukum Islam tidak adil –dalam kasus yang anda utarakan ini– disebabkan anda memberi contoh yang menetapkan bahwa laki-laki itu memang berzina dengan perempuan tersebut. Lalu, dari mana anda tahu bahwa laki-laki dalam contoh itu pelaku zina juga? Tentu anda tidak mungkin menjawab dengan jawaban ini asumsi saja.

Hukum tidak boleh ditetapkan berdasarkan asumsi. Oleh karena itu, kesimpulan yang menyatakan bahwa mengapa wanitanya saja yang dihukum –karena hamil dan ada pengakuan– sedangkan prianya tidak, yang anda gunakan untuk menyatakan ketidakadilan hukum Islam adalah tidak tepat. Sebab, asumsi awalnya sudah salah –laki-laki itu pasti berzina. Kesimpulan ini disebabkan anda telah masuk dalam wilayah bathin laki-laki tersebut. Coba kalau anda disodori kasus yang riil, pasti anda tidak akan berkesimpulan bahwa hukum Islam itu tidak adil. Malah pasti anda akan berkesimpulan “Hukum Islamlah yang paling adil dalam masalah ini”. Wallahu a’lamu bish-shawaab.

Sumber: Serambinews.com

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: