Skip to content

HUKUM MEMUTARBALIKKAN AYAT AL-QURAN

19 Juli 2009

Oleh: Prof. DR. Tgk H Muslim Ibrahim, MA

Pertanyaan
Kita sering lihat atau baca dalam majalah dan surat kabar semacam hiburan untuk menyusun Alquran secara berurut sebagaimana ia diturunkan, guna memudahkan pemahaman. Yaitu dengan bertitik tolak pada ayat pertama surat Al’Alaq kita menafsirkan ayat-ayat berikutnya. Dengan demikian, katanya kita akan dapat memahami maksud dan memudahkan dalam penerapan kandungannya ke dalam kehidupan kita sehari-hari. Sehubungan dengan itu, saya ingin mengetahui apa hukum memutarbalikkan susunan ayat Alquran untuk memudahkan dalam memahami dan mengamalkannya. Atas jawabannya saya ucapkan banyak terima kasih.

Wassalam dari saya,
Sakubat Salam

Jawaban
Saudara Sakubat Salam,
Waalaikumussalam wr. wb.

Sepanjang yang pengasuh ketahui, Alquran adalah firman Allah swt berbahasa Arab, diwahyukan kepada Nabi Muhammad saw melalui malaikat Jibril. Harus dibaca menurut adanya, dan mukjizat bagi kerasulan Rasulullah saw.

Ayat ayatnya diturunkan secara berangsur-angsur, namun bentuk akhirnya ialah seperti yang kita lihat sekarang ini, yaitu dimulai dengan surat al-Fatihah dan diakhiri dengan surat an-Naas. Penempatan ayat dan surat-suratnya adalah sesuai dengan petunjuk Jibril sendiri yang selalu mengontrol hafalan Rasulullah pada tiap bulan Ramadhan. Malah pada Ramadhan terakhir dari kehidupan Nabi, Jibril mengontrol hafalan beliau sampai dua kali.
Jadi, Alquran bukanlah buku roman atau tulisan di koran yang dengan mudah dapat saja diputar-balik atau pun di “tuka take”. Kita yakin, buku biasa ataupun tulisan koran pun kalau dibolak-balik akan mengubah arti dari maksudnya semula. Boleh jadi artinya akan bertolak belakang. Konon pula kalam Allah swt Yang Mahasuci.
Seruan untuk mengulang susun seperti yang ditanyakan, kita yakin berasal dari orientalis yang sejak dari tahun 1143 M terus menerus memikirkan cara terbaik untuk menjauhkan umat Islam dari agamanya. Penelitian-ke penelitian mereka lakukan, akhirnya sampai kepada kesimpulan bahwa umat Islam tetap teguh dan selamanya mereka akan berpegang pada Alquran.
Alquran pun tidak mungkin diubah-ubah. Tapi, katanya, “kita akan mampu menyalah-nyalahi pengertian Alquran. Kita akan mampu menjauhkan mereka dari as-Sunnah dan akan mampu pula mengajak mereka untuk memutarbalikkan letak ayat ataupun suratnya”. Untuk itu dengan gigih mereka berusaha keras. Yang paling aktif dalam usaha antara lain, A.J Albarry, Alfred Goom, Carra da Vaux, Goldziher, S. Zweimar, Hitti, Wansirok, Massignon, Me. Donald, Maraoliouth, Nicholson, Henry Lammons, J. Schact, Noldaka, Casanova dan lain-lain.
Akhirnya pada tahun 1925 melalui Kongres Besar, Orientalis merumuskan garis garis besar program yang antara lain disebutkan: Kita mendorong umat Islam untuk menyusun kembali Alquran secara periodik penurunan, bukan lagi seperti susunan yang ada sekarang. (cf. Muslim Ibrahim, Orientalis dan Islam hal. 30 – 48).
Tidak cukup dengan anjuran, pada tahun 1689, Maracci, menterjemahkan Alquran ke dalam bahasa latin. Dalam muqaddimah terjemahan itu diutarakan bantahannya yang cukup tegas terhadap kebenaran Alquran. Kemudian muridnya, J.M Rodwell melanjutkan usaha penyusunan Alquran menurut urutan penurunannya. Dalam susunan yang resmi pada tahun 1881 ini, nampak jelas pemutarbalikkan ayat-ayat, sehingga pengertiannya menjadi tidak utuh lagi. Dengan dalih metodologi yang tak berisi itu, pendeta Kristen ini telah berhasil memberikan gambaran jelek terhadap Alquran kepada khalayak Barat, berikut dengan kekejaman dan kedhaliman ajaran Islam. (cf. Ar-Raadhy, al-Istisyraaq Wal Mustasyriquun, hal 173, bandingkan dengan Departemen Agama, Al-Qur’an dan terjemahannya, hat 35-36).
Jadi masalah ini, sebenarnya bukanlah sesuatu yang baru. Sponsornya pun bukan orang tidak kita kenal. Mereka adalah para orientalis ekstrim yang Allah swt sendiri telah membayangkan kepada kita melalui ayat 120 surat al Baqarah: “Lantardhaa’ankal Yahudu walan Nashaara Hatta Tattabi’a Milatuhum…”
Yang kita sesalkan hanyalah, kok ada di antara kita orang bermati-matian “menari” mengikuti “gendang” mereka. Bangga dengan pakaian yang kafirpun terkadang malu memakainya. Mereka sreg dengan menayang atau menyaksikan film-film yang “jin afret” pun hanya melihat menjelang acara telanjang, seperti film See of Love banyak juga beredar di toko-toko CD murahan.
Kita akan lebih kesal lagi, tatkala kita tahu, yang “ menari” itu adalah orang pintar yang memiliki segudang gelar. Mustahil mereka tidak mengetahui bahwa penyusunan Alquran adalah “tauqiifi”. Bila direvisi susunannya, pengertiannya akan terputus, pemahamannya akan terpotong-potong, tersendat di tengah jalan, ibarat aliran listrik yang tidak bersambung. Akibatnya kegelapanlah yang akan timbul dan kakacauanpun akan terjelma. Maka tercapailah sudah maksud al-Kaafiruun itu.
Pada pertengahan abad yang lalu usaha seperti ini pernah juga muncul di Beirut (Lebanon). Namun karena tantangan dahsyat dari ulama, sarjana, cendikiawan dan organisasi beberapa negara yang umatnya beragama Islam, usaha itu menjadi mati sebelum tumbuh. Akan tetapi setan tidak pernah mati sebelum kiamat.
Maka akhir-akhir ini muncul pula “gendang” lama itu dengan irama dan pakaian baru, mungkin bersemboyankan modern, rasional, liberal, metodologis, ataupun dengan alasan-alasan lain yang membuat orang Islam terhanyut dibawa arus orientalisme. “Nggak usah yaa !… Kita ber”haqqul yaqiin” dengan “Innasyaithaana lakum `aduwwum mubiin “.
Kita iman benar bahwa penafsir Alquran yang pertama dan utama adalah Rasulullah saw dengan hadits Qauly, Fi’ly dan Taqrirynya. Berdasarkan as-Sunnah, diketahui rahasia perurutan ayat dan surat Alquran, sebagaimana yang diuraikan As-Sayuuthy dalam Asraarut Tikraari Fit Quran. Demikian, Wallahu A’lamu Bishshawaab.

Sumber: Serambinews.com

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: