Skip to content

HAKIKAT IMAN

9 Mei 2009

MAKRIFATULLAH (Mengenal Allah)

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Rukun iman pertama dalam islam adalah percaya kepada adanya Allah swt, malahan agama-agama lainnya yang dianut oleh manusia juga mengakui adanya Allah swt, tetapi disebut dengan nama yang berlainan. Dalam agama Hindu disebut Sang Hyang Widhi, dalam agama Budha dikenal dengan Sang Hyang Adi Budha, dalam agama Yahudi dikenal dengan Yahweh, dan lain-lain.

Sesuai dengan hal ini seorang ulama tauhid mengatakan: “Kewajiban manusia pertama sekali mengenal Allah swt dengan keyakinan yang teguh. Menurut pandangan Syech Thahir bin Saleh al-Jazairi dalam bukunya “Al-Jawahiru al-Kalamiyah mengatakan “bahwa iman kepada Allah swt dapat dibagi kepada dua yaitu iman dalam bentuk ijmali (global) dan dalam bentuk tafsili (terperinci).

Secara global dimaksudkan seseorang beriktiqad bahwa Allah itu bersifat dengan segala sifat kesempurnaan dan Maha Suci dari segala sifat kekurangan. Sedang secara terperinci dimaksudkan seseorang beriktiqad bahwa sesungguhnya Allah itu bersifat dengan sifat wajib yang jumlahnya 20 sifat. Sementara itu ada pula yang mengatakan bahwa iman kepada Allah mencakup tiga hal yaitu meyakini adanya Allah, meyakini ke-Esa-an Allah dalam wujud, meyakini Allah bersifat dengan kesempurnaan dan tidak menyeruoai alam baru ini.

Iman kepada Allah dalam pengertian pertama rumusannya kurang sempurna karena antara iman ijmali dan iman tafsili tidak ada keserasian. Dalam rumusan tafsili belum dapat perincian sifat-sifat kekurangan yang diyakini tidak ada pada Allah. Demikian pula sifat ayng wajib ada hanya 20 sifat. Pada hal sifat kesempurnaan Allah berjumlah 99 sifat yang disebut dalam Al-Quran dengan Asma-Ul-Husna. Allah berfirman dalam surat Al-Hasyar ayat 22-24, yang artinya: “Dia-lah Allah Yang tiada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Yang Mengetahui yang gaib dan yang nyata, Dia-lah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.  Dia-lah Allah Yang tiada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Raja, Yang Maha Suci, Yang Maha Sejahtera, Yang Mengaruniakan keamanan, Yang Maha Memelihara, Yang Maha Perkasa, Yang Maha Kuasa, Yang Memiliki segala keagungan, Maha Suci, Allah dari apa yang mereka persekutukan  Dia-lah Allah Yang Menciptakan, Yang Mengadakan, Yang Membentuk Rupa, Yang Mempunyai Nama-Nama Yang Paling baik. Bertasbih kepada-Nya apa yang ada di langit dan di bumi. Dan Dia-lah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”. dan surat Al-Akraf ayat 180, yang artinya: “Hanya milik Allah asmaulhusna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaaulhusna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan”.

Demikian pula dalam hadits Rasulullah saw yang bersal dari Abu Hurairah ra yang terjemahnya: “Rasulullah saw bersabda: Allah mempunya sembilan puluh sembilan nama, seratus kurang satu, siapa yang menghafalnya masuk syurga. Allah itu ganjil (tunggal dan menyukai yang ganjil). HR Bukhari dan Muslim.

Yang dimaksud dengan ganjil disini adalah Allah itu tunggal, tidak ada tandinganNya, sedangkan pengertian Allah menyukai yang ganjil adalah Allah menyukai manusia yang menyukai ke-Esa-anNya dalam segala hal.

Sehubungan dengan pengertian iman di atas, rumusan terakhir merupakan gabungan iman secara ijmali dan tafsili dengan penekanan iman kepada dua sifat Allah yaitu “Wujud dan Esa” serta bersifat dengan sifat kesempurnaan. Rumusan ini juga kurang begitu sempurna karena belum memenuhi pengertian menurut syara’ yaitu mengucap dengan lisan, membenarkan dengan hati dan beramal dengan anggota.

Dari dua pengertian di atas dapatlah dibuat suatu pengertian yang lebih lengkap yaitu iman kepada Allah adalah mengucapkan dengan lisan, membenarkan dengan yakin dalam hati dan mengamalkan dengan anggota badan, bahwa Allah ada, esa dan bersifat dengan sifat-sifat kesempurnaan.

Jadi jelaslah bahwa iman kepada Allah itu lebih merupakan pengakuan mulut dan pembenaran hati (secara teoritis) dan dimanivestasikan dalam kehidupan sehari-hari (secara praktis).

Semua yang tersebut di atas adalah merupakan jalan ma’rifah kepada Allah di samping ma’rifah kepada Allah melalui sifat-sifatNya, perbuatanNya dan Asma-AsmaNya.

Bersambung

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: