Skip to content

ILMU TAUHID: AQIDAH

26 April 2009

AQIDAH

 

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

 

Yang dimaksud dengan aqidah ialah pendapat, pikiran dan anutan yang mempengaruhi jiwa manusia, menjadi bagian dari manusia sendiri., sehingga dibela, dipertahankan dan diyakini bahwa hal tersebut benar dan perlu dikembangkan. Dalam diri manusia terdapat aqidah dengan jumlah banyak atau sedikit, tergantung pada banyak tidaknya ilmu dan pengalaman.

Aqidah itu ada yang berbentuk diniyah (agama) baik dalam bentuk hukum maupun pikiran dan pandangan. Adapula berbentuk aqidah (adabiyah) yaitu suatu anggapan bahwa hasil pikiran suatu bangsa sesuai dengan taraf kemanjuan dan kecerdasannya. Adapula aqidah Ijtimayyah (masyarakat) yang beranggapan bahwa masyarakat memiliki hak perseorangan harus dipenuhi, tolong-menolong sesamanya merupakan kewajiban. Dan ada pula aqidah Khuluqiyah (akhlak) yang beranggapan bahwa keberanian, kesabaran dan kebenaran paling utama karena menghasilkan manfaat bagi masyarakat. Demikian pula aqidah Ilmiyah yang beranggapan bahwa segala sesuatu itu ada sebabnya.

Aqidah itu lebih merupakan keimanan yang tumbuh dari sumber yang tidak dapat dirasakan dan memaksa manusia mempercayainya tanpa memerlukan dalil-dalil. Dalam hal ini akal tidak punya peran apa pun. Ia hanya berfungsi sebagai penguat sesudah aqidah ini terwujud. Inilah sebabnya kadang-kadang aqidah itu sesuai dengan kenyataan dan adakalanya tidak. Aqidah itu berbentuk ilham yang tumbuh tanpa kemauan atau renungan mendalam.

Dalam menganut sesuatu aqidah para ulama berbeda pendapat tentang caranya :

  1. Dalam menganut sesuatu aqidah wajib bertaqlid saja, tidak boleh menggunakan penyelidikan akal karena ditakuti akan menjadi kesimpangsiuran, kesamaran dan kesesatan. Pandangan ini banyak kelemahannya karena dalam a-Quran sendiri Allah swt melarang manusia bertaqlid. Manusia harus mengadakan penyelidikan dengan melihat kepada kejadian alam semesta, termasuk masalah aqidah ini. Allah berfirman dalam Surat Al-Baqarah ayat 170 yang artinya:” . Dan dalam Surat Yunus ayat 101 yang artinya: “ .
  2. Dalam menganut sesuatu aqidah, taqlid (ikut saja) dan nadhar (mengadakan penyelidikan) diperbolehkan. Karena dalam nasalah aqidah ada yang mengharuskan taqlid karena akal tidak mampu mencernanya. Ada pula yang memerlukan dalil dimana akal mampu menjelaskannya. Allah swt berfirman dalam al-Quran Surat Al-Hujarat ayat 15, yang artinya: “ .

Dalam beberapa riwayat disebutkan bahwa Nabi Muhammad SAW menerima keimanan orang Arab Badawi hanya dengan mengucapkan Dua Kalimah Syahadat dengan penuh keyakinan tanpa menyuruh mereka beristitdlal. Sehingga Imam Al-Ghazali mengatakan, “iman” itu merupakan suatu nur Ilahi yang dilimpahkan ke dalam hati manusia sebagai anugerah dan hidayahNya. Kadang-kadang ia datang alam bentuk kesadaran batin, dalam bentuk mimpi, menyaksikan orang lain beragama dan taat beribadah. Aqidah itu datang tanpa memerlukan pembuktian dengan dalil akal. Oleh karena itu setiap orang yang meng’iqtikadkan apa yang datang dari Rasul yang dilengkapi dengan al-Quran, dengan iqtikad yang kokoh, ia menjadi mukmin, walaupun tidak mengetahui dalil-dalil akal.

Segolonga Ulama memandang, tugas penyelidikan dibebankan atas orang yang sanggup untuk itu, karena penyelidikan dimaksud merupakan jalan kesempurnaan memperoleh ilmu. Tanpa penyelidikan berarti meninggalkan kewajiban dan berdosa.

Pandangan ini banyak kelemahannya karena Allah swt telah menampakkan dalil-dalilnya ang dapat diketahui oleh semua orang yang mau memperhatikannya. (Al-Quran Surat Nuh ayat 10-15 dan Surat Yunus ayat 101). Sebab jiwa manusia dalam menerima aqidah dapat memahami dalil-dalil yang umum. Itulah sebabnya Rasulullah saw tidak menyuruh oang Badui untuk berdalil dalam beriman. Kalaupun ditanya kepada mereka “dengan apa engkau mengenal Tuhan engkau?”, mereka sanggup menjawab “adanya kotoran unta menunjukkan adanya unta” dan “ bekas tapak kaki menunjukkan kepada adanya seorang yang berjalan”.

Segolongan ulama mengatakan bahwa aqidah dengan taqlid tidak sah, batal. Setiap orang haruslah menggunakan akal untuk membuktikannya. Pandangan seperti ini banyak dikemukakan oleh tokoh Mu’tazilah seperti Abu Hasyim, Ar-Razi atau ‘amidi. Mereka beralasan bahwa Allah swt memerintahkan untuk mengenalnya. (Al-Quran Surat Muhammad ayat 19). Jalan untuk mengetahuiNya haruslah dengan pikiran akal (nadhar). Demikian pula Allah swt melarang manusia mengikuti sesuatu yang tidak diketahuinya karena kelak akan diminta pertanggungjawaban yang didengar dan dilihatnya, (Al-Quran Surat Al-Isra’ ayat 36). Oleh karena itu dalam aqidah diperlukan dalil yang meyakinkan sehingga menimbulkan ketenangan di dalam hati.

Dalil untuk menetapkan adanya Allah swt dapat dijangkau oleh semua orang. Inilah sebabnya Islam melarang pemaksaan untuk memeluknya.(Al-Quran Surat Al-Baqarah ayat 265). Menurut Sa’aduddin At-Tafzani, mengenal Allah cukup dengan dalil yang umum saja sehingga seseorang terhindar dari taqlid dan hukumnya fardhu ain.

Sedangkan mengenal Allah dengan dalil tafsili (terperinci) hanya merupakan fardhu kifayah, yang harus ada dalam masyarakat sebagai prefentive terhadap hal-hal yang dimasukkan dari luar Islam. Ibnu Hazm, tidak membenarkan taqlid kecuali bertaqlid kepada Rasulullah saw. Karena bertaqlid kepada Rasululullah saw berdasarkan petunjuk Allah swt. (al-Quran Surat al-A’raf ayat 3). Sebab pengertian taqlid adalah meyakini sesuatu aqidah karena orang lain, sehingga bila orang lain itu meninggalkannya, ia akan meninggalkannya pula. Oleh sebab itu orang yang tidak dapat menerima sesuatu kepercayaan tanpa dalil, wajib mencarinya sehingga ia meninggal dunia tidak seperti orang kafir.

Sedangkan orang yang sudah kuat menerima apa yang berasal dari Rasul saw tidak diperlukan tindakan seperti ini. Menurut Ibnu Hazm, sesuatu yang datang dari Rasul itu menjadi pondasi dari aqidah atau ada dalil yang benar dapat membuktikan kebenaran aqidah itu. Inilah sebabnya ketika suku-suku kafir menolak ajakan Rasul saw beliau meminta dalil yang menguatkan apa yang mereka iqtiqadkan selama ini. (Al-Quran Surat An-Naml ayat 64).

 

One Comment leave one →
  1. 23 Juni 2009 21:11

    Bagus banget postingannya,sangat membantu para pengunjung.
    So, teruslah berkarya dalam hal membantu sesama, , ,:-))
    Jangan ragu memposting hal baru apapun yang bermanfaat tentunya,karna apa yang kita sangka ga penting,
    bisa jadi sangat penting dan berharga banget buat pengunjung.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: