Lanjut ke konten

MAKANAN DAN MINUMAN HALAL

22 Juli 2009

Oleh: Prof. DR. Muslim Ibrahim, MA

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Sering kita dengar dalam ceramah, bahwa makanan yang halal sangat menentukan kepribadian kita, Malah do‘a kitapun tak akan dikabulkan sebelum kita jaga kehalalan makan dan minuman kita. Untuk itu kami mengharapkan bantuan ustadz untuk memberikan sedikit gambaran sekitar kriteria makanan halal baik yang berasal dari tubuhan ataupun hewan. Atas bantuannya saya ucapkan terima kasih.

Wassalam
Syamsudin Hasan/Aceh Timur

Pengasuh:

Sdr Syamsudin,
Waalaikumussalam wr. wb.

Secara singkat, makanan yang dimakan atau diminum manusia serta bahan yang digunakan dalam produksi makanan dan minuman. Makanan yang terdiri dari tumbuhan, binatang termasuk ikan itu ada yang halal dikonsumsikan dan ada pula yang haram.

Sesungguhnya, makanan atau pangan yang halal dimakan adalah makanan yang halaalan, thayyiban ditambah mubaarakan dan tidak terdiri dari najis atau bercampur najis. Untuk mendapat makanan sebagaimana dimaksudkan, paling kurang ada khamsu halaalaat yang harus diperhatikan. Pertama, halal zatnya. Dilihat dari sisi kehalalan zatnya, makanan yang dikonsumsikan manusia terbagi tiga jenis, yaitu nabati, hayawani dan jenis olahan.
Nabati, terdiri dari tumbuh-tumbuhan, sayur-sayuran dan buah-buahan. Semua tumbuh-tumbuhan pada dasarnya- boleh dikonsumsikan, kecuali yang mendatangkan bahaya atau bernajis atau memabukkan baik secara langsung ataupun setelah melalui proses. Demikian juga dengan buah-buahan, bila mengandung racun, memabukkan ataupun membahayakan, hukum mengkonsumsikannya adalah haram.
Hayawani, dilihat dari tempat hidupnya (Habitat) biasanya ahli Zologi membagi binatang kepada tiga jenis, yaitu binatang darat (barry) dan binatang laut (bahry) dan binatang yang hidup di dua tempat (Barmaaiy).
Semua binatang Barry halal zatnya untuk dikonsumsikan, kecuali Babi dan Anjing, Bangkai kecuali ikan dan belalang, Binatang yang bertaring/gading, seperti gajah, harimau dan sebagainya. Binatang yang mempunyai kuku/cakar, menangkap dan makan dengan menggunakan kuku/ cakarnya, seperti burung hantu, elang dan sebagainya.
Binatang yang menjijikkan seperti kutu, lalat, ulat, biawak dan sebagainya. Binatang yang disuruh bunuh, sepetti ular, burung gagak, tikus, anjing galak dan burung elang (lima macam)
Binatang yang dilarang agama membunuhnya seperti semut, lebah, burung hud-hud, burung pelatuk dan sebagainya. Daging yang dipotong dari binatang yang masih hidup. Binatang yang beracun dan mudharat bila dimakan. Juga segala bentuk najis seperti bangkai, darah, khamar dan jenis-jenisnya, nanah dan semua yang keluar dari qubul dan dubur adalah zatnya haram, maka tidak boleh dimakan.
Semua binatang Bahry halal zatnya kecuali yang menyerupai binatang darat yang haram dimakan, seperti anjing laut, babi laut dst.
Semua binatang Barmaaiy (Amphibia) tidak halal zatnya untuk dimakan seperti seperti buaya, penyu, kura-kura, meskipun telur penyu menurut jumhur ulama zatnya adalah halal untuk dimakan.
Kedua, halal cara memperolehnya. Makanan yang halal zatnya untuk dapat dikonsumsikan, haruslah diperoleh secara halal pula. Karena meskipun makanan itu sudah halal zatnya, tapi kalau cara memperoleh haram, maka mekonsumsikan makanan tersebut menjadi haram juga. Misalnya nasi yang secara ijmak ulama menyatakan halal untuk dimakan (halal zatnya), tapi kalau nasi itu hasil curian, artinya cara memperoleh nasi itu adalah haram maka hukum menkonsumsinya menjdi haram juga.
Ketiga, halal cara memprosesnya. Sebagaiman dimaklumi, binatang yang halal dimakan tidak dapat dimakan secara serta merta, tapi harus melalui proses penyembelihan, pengulitan dan sebagainya.
Proses-proses ini harus halal pula; (1) Penyembelihan, kecuali Ikan dan Belalang. Semua binatang yang halal dimakan harus disembelih. Untuk penyembelihan diperlukan sejumlah syarat, yaitu disembelih oleh orang Islam, baligh, berakal dan mengetahui syarat-syarat penyembelihan.
Binatang yang akan disembelih haruslah binatang yang halal zatnya. Binatang tersebut harus benar-benar masih hidup sebelum disembelih. Waktu disembelih, binatangnya dihadapkan ke kiblat.
Alat penyembelihannya harus tajam dan tidak terdiri dari tulang, kuku atau gigi.
Pada waktu penyembelihan, penyembelihnya harus membaca basmalah dan takbir. Penyembelihannya dilakukan pada leher binatang danharus memutuskan tenggorokan (trachea) kerongkongan (oesophagus), pembuluh arteri dan vena utama dibagian leher (Halqum dan Mari‘). kecuali dalam kedaan darurat, maka dapat disembelih dimana saja di badannya, asal dapat mati karena luka itu.
Penyembelihan dilakukan dengan satu kali sembelih, Maksudnya menaik-turunkan mata pisau pada leher binatang sembelihan sampai terputus urat-urat lehernya seperti tersebut diatas, tapi mata pisau itu tidak pernah terlepas dari leher binatang.
(2) Pembersihan dan pematangan. Binatang yang hendak dibersihkan binatang yang sudah mati setelah disembelih. Alat-alat yang digunakan dalam proses selanjutnya, seperti pisau untuk menguliti, tempat memotong, kuali, periuk dan sebagainya harus suci, bersih dan halal. Air yang digunakan untuk membersihkan bahan hendaklah air muthlaq, yang suci dan menyucikan.
Tidak boleh mencampur-adukkah dengan bahan-bahan atau ramuan yang tidak halal. Alat-alat memasak seperti belanga, periuk, sendok dsb harus suci, bersih dan halal. Tempat membasuh segala pekakas masakan dan hidangan hendaklah dipisahkan antara yang halal dengan yang haram.
Keempat, halal pada penyimpanannya. Semua bahan makanan yang disimpan hendaklah disimpan pada tempat yang aman, seperti dalam lemari es, agar busuk dan tidak disimpan di dalam tempat yang dapat bercampur dengan najis, seperti tuak, atau benda haram lainnya.
Dalam proses produksi tidak tercampur atau berdekatan atau menempel dengan barang atau bahan yang haram seperti najis dan seterusnya.
Kelima, halal palam penyajiannya. Dalam mengedarkan dan menyajikan makanan penyajinya haruslah bersih dari najis dan kotoran. Para supplier dan leveransir atau sales haruslah orang yang sehat dan berpakaian bersih dan suci. Alat kemas atau bungkus atau yang sejenisnya harus hygen, steril, bersih, suci dan halal. Perkakas atau alat hidangan seperti piring, mangkok dan sebagainya haruslah suci, bersih dan halal.
Apabila semua ketentuan di atas telah terpenuhi barulah pangan yang berasal dari tumbuhan dan hewan/ikan dapat dinyatakan halal untuk dikonsumsikan oleh seseorang Islam. Yang berhak menyatakan halal atau tidak halal dikonsumsikannya adalah MPU/MUI setelah hasil penelitian/pengawasan LPPOM-MPU/MUI dibahas di dalam Komisi Fatwanya. Setelah ada penyataan halal dari MPU/MUI, maka label halalnya dapat ditempel oleh badan/lembaga yang disepakati oleh semua pihak terkait, yaitu MPU/MUI, Produsen, Departemen Agama, Deptan-Bag Pangan, Perdagangan dst.
Pengawasan perlu terus menerus dilakukan oleh semua pihak yang terkait, baik pemerintah, swasta ataupun konsumen sendiri. Dan kepada donator makanan dan minuman kita sangat mengharapkan bantuannya untuk menjaga kriteria tersebut. Makanan atau minuman yang tidak memenuhi syarat tak usahlah dikirim dan dibagi-bagikan di kepada Muslimin di Aceh, apalagi makanan dan minuman yang sudah kadaluarsa masa lakunya. Umat Islam akan berterima kasih kepada semua pihak yang memperdulikan masalah ini. Lebih jauh masalah ini dapat dirujuk antara lain dalam kitab: Mughnyul Muhtaaj, Jld.4, hal.305; Al-Muhadzdzab, Jld 1, hal.246; Bidayatul Mujtahid, jld.1, hal.450-452 dan 456; Al-Qawaniinul Fiqhiyah, hal.171; Al-Badaai‘, J. 5, h.39; Al-Qawaaniinul Fiqhyah, h. 172; dan Al-Mughny, j. 8, h.592. Demikian, semoga bermanfaat adanya. , Wallahu A’lamu Bish-Shawaab.

Sumber: Serambinews.com

2 Komentar leave one →
  1. vidya permalink
    20 April 2012 02:06

    ah…malah ra mudenk,,,

  2. 8 Februari 2012 01:05

    terimakasih saya haturkan pada beliau Prof. DR. Muslim Ibrahim, MA
    yang telah berbagi dan berdakwah…kepada saya….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: